|
Written by Firdaus Ali
|
|
Friday, 18 May 2012 19:38 |
|
Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta Sabtu Malam (12/5/12) lalu telah menetapkan nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Apa yang istimewa dari Pilgub DKI Jakarta kali ini? Setidaknya untuk pertama kali pilgub ini dimeriahkan dengan rekor jumlah pasangan kandidat yang terbanyak (6 pasangan). Bahkan yang membuat lebih berbeda lagi, untuk pertama kali juga diikuti oleh 2 orang kepala daerah aktif dari luar Jakarta serta 2 pasang calon independen.
Begitu tingginya daya aktraktif posisi DKI-1 kali ini sudah tidak disangsingkan. UU 29/2007 tentang Pemprov DKI Jakarta sebagai Ibukota NKRI secara implisit mengasosiasikan kedudukan Gubernur DKI Jakarta secara protokoler sebagai RI-3. Dimana gubernur berhak mendampingi presiden dalam menerima tamu-tamu kehormatan negara dan bahkan dapat menghadiri sidang kabinet tertentu. Tentunya banyak keistimewaan lain yang melekat pada posisi DKI-1 yang sepenuhnya bertanggungjawab menyelenggarakan fungsi tertentu pemerintahan dan penyelenggaraan negara yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional.
|
|
Last Updated on Friday, 18 May 2012 20:19 |
|
Read more...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 17 April 2012 10:20 |
|
BRUNEI's good education system and infrastructure provide the right environment for the newly launched e-Hijrah strategy, said an ICT expert from Jordan.
"Brunei has a strong base in education, if you look at the system they are very competent with many other countries in the world," said Hussein Al Zahrani, advisor and consultant in education transformation policy, planning and implement to Middle East governments.
He has served as Director General of ICT and Development at the Ministry of Education in the Hashemite Kingdom of Jordan.
In the interview with The Brunei Times yesterday at The Empire Hotel & Country Club, Hussein noted that Brunei has 95 per cent of adult literacy and 99 per cent of child literacy.
The schooling services in Brunei is something that one "cannot find in many countries" because education and school books found in government schools were free for the people.
Hussein said that he has had discussions with Brunei's education minister to share experiences.
"We have been talking about ways to maintain and the way to have this project succeed and eliminate factors that would make it fail," Hussein said. "I would help as much as I can from my experiences and help with the implementation later on."
Another invited speaker, Dr Firdaus Ali, a lecturer and researcher at the Civil and Environmental Engineering Department, University of Indonesia said education was an area that would open up more opportunities for Brunei and e-Hijrah was "the best planning" for the country's education system.
 "People may think that Brunei does not need education (improvement) because they (Brunei) are rich due to oil and the population is small," Dr Firdaus said.
However, natural resources such as oil and gas would not last forever compared to good education as a well-educated population will go a long way, he reasoned.
|
|
Last Updated on Tuesday, 17 April 2012 10:30 |
|
Read more...
|
|
Written by Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc
|
|
Tuesday, 17 April 2012 10:05 |
|
“bukan lautan hanya kolam susu, … orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, pasti anda sudah tidak asing lagi dengan beberapa penggalan lirik lagu lagu Koes Plus yang berjudul kolam susu. Istimewanya, lagu itu bukan hanya bisa mencapai tangga lagu hits pada jamannya, tapi juga dipercaya menjadi gambaran real kondisi alam Indonesia yang diceritakan amat subur, kaya sumber dayanya, dan berlimpahan air penunjang kehidupan.
Dengan setengah ‘terdoktrin’, masyarakat yang menganggap tanah air ini kaya dan subur, dari zaman ke zaman, tahun demi tahun terus menerus memakai kekayaan alam itu dan sering kali berakhir pada ekploitasi yang tidak bertanggung jawab. Jika kita lihat dari potensi sumber daya air saja, Indonesia termasuk negara yang kaya akan air dengan 2.779 milimeter rata-rata curah hujan per tahun. Namun akibat ketidaktahuan masyarakat dalam menjaga dan mengehemat air menyebabkan Indonesia kini terancam kekurangan air.
|
|
Last Updated on Saturday, 21 April 2012 08:43 |
|
Read more...
|
|
Written by Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc
|
|
Thursday, 12 April 2012 10:15 |
|
Dalam rencana, tahun 2009 Jakarta membangun proyek terowongan raksasa yakni terowongan moda angkutan massal (subway) dan terowongan bawah tanah multi fungsi. Keduanya diharapkan dapat mengatasi problema Jakarta yang cukup krusial di masa mendatang. Jakarta terapung. Jakarta punya monorail. Oke! Dialog yang diucapkan seorang lanjut usia dalam iklan sebuah situs di televisi menggambarkan informasi tentang Jakarta.
Jakarta, maunya tak harus sering tenggelam dalam genangan. Dalam realita, arus dinamika memacu kota metropolitan ini menjadikan sebagian wajah wilayahnya terpoles modernisasi. Sayangnya, Jakarta memiliki dasar rupa nan kurang cantik. Betapa tidak, dataran rendah di wilayah pesisir yang awalnya berawa-rawa, dialiri 13 sungai yang pada era kemerdekaan dipenuhi gubuk liar akibat urban yang membabi buta, acapkali dikunjungi air berlebih dari wilayah hulu. Pemerintah Hindia Belanda yang pernah menguasainya dengan sebutan Bataviapun sering dibuat kalang kabut manakala kota ini berulangkali dilanda banjir besar. Sungai Ciliwung sering dianggap menjadi biang keladi utamanya.
|
|
Last Updated on Thursday, 12 April 2012 10:54 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 08 April 2012 20:47 |
|
Penny K. Lukito, pegawai, bekerja di Kementerian Perencanaan Pembangunan/Bappenas *)
Memasuki tahun 2012 ini, di tengah berbagai sorotan yang ditujukan kepada pemerintah terkait dengan kelambanan sistem birokrasi kita, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menggulirkan rencana Program Percepatan Reformasi Birokrasi. Tentunya hal ini memberikan kembali harapan agar ada langkah cepat untuk terjadinya reformasi birokrasi yang belakangan ini banyak dipermasalahkan oleh banyak pihak.
Tidak kurang dari Presiden
Presiden SBY sendiri, dalam suatu rapat kerja pemerintah, mengatakan bahwa ada tiga faktor utama yang menghambat laju perekonomian Indonesia. Pertama, masalah birokrasi yang dianggap menjadi penghalang. Kedua, infrastruktur backlog. Dan ketiga, korupsi. "Kita tidak hanya butuh berkomitmen, tapi juga mengubah segalanya secara fundamental," kata Presiden ihwal berbagai permasalahan birokrasi, baik yang terjadi di pusat maupun daerah.
|
|
Last Updated on Sunday, 08 April 2012 21:01 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Page 1 of 2 |